Banyak persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam pekerjaan kita yaitu bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Jarang kita dalam bekerja tidak berkomunikasi dengan orang lain apapun pekerjaan kita. Dari interaksi kita dengan orang lain itu sering pula kita menemui orang-orang yang menurut kita “orang sulit”. Sehingga sering terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan yang bermuara pada konflik baik dalam sekala kecil maupun sekala besar. Pada hal itu TIDAK KITA INGINKAN.
Coba Anda perhatikan penggalan cerita ini:
Alkisah ada seorang raja yang sedang sakit mata, dia memanggil setiap tabib di seluruh kerajaan untuk menyembuhkan matanya. Tapi tak satupun tabib itu yang berhasil menyembuhkan mata si raja. Maka diputuskan untuk memanggil tabib yang berasal dari luar kerajaannya. Lalu oleh salah seorang tabib, raja di sarankan untuk sesering mungkin melihat benda-benda berwarna hijau agar matanya cepat sembuh. “Ah ?. Itu hal yang sangat mudah dilakukan” pikir Si Raja.
Seketika itu juga diperintahkanlah seluruh rakyatnya untuk mengecat rumah-rumah mereka dengan warna hijau dan semua benda, pohon-pohon dan sebagainya berwarna hijau. Tapi apa yang terjadi ??.. perintah raja tidak secepat pengerjaannya. Setiap hari ada saja yang belum dicat hijau dan tidak semua hal bisa di cat hijau. Raja pun marah-marah kena apa hal itu sulit dilakukan. Dipanggillah kembali tabib tadi dan di katakan kesulitanya. Maka tabibpun angkat bicara, “Baginda Raja, saya rasa baginda tidak bisa merubah semuanya ini sesuai dengan kehendak baginda semuanya berwarna hijau. Karena akan banyak daun dan batang pohon yang setiap hari tumbuh dan tidak selalu berwarna hijau. Itu semua Tuhan yang mengatur. Maksud saya baginda harus sering pergi ke desa-desa untuk melihat hijaunya alam baginda. Sehingga mata Baginda menjadi sehat kembali.”
“Tapi saya ini orangnya sangat sibuk, dan tidak akan ada waktu untuk pergi mengunjugi desa-desa itu”.
“Baiklah baginda kalau memang demikian ini saya berikan suatu benda yang harus Baginda yang harus baginda kenakan setiap hari di mata Baginda”
Lalu tabib itu memberikan sebuah Kaca Mata yang kacanya berwarna Hijau kepada raja, lalu dipakailah kaca mata itu dan semuanya menjadi Hijau.
Cerita diatas hanya ingin mengatakan bahwa kita tidak akan mampu merubah semua yang berada diluar diri kita sesuai dengan kehendak kita. Tapi yang bisa kita lakukan adalah merubah diri kita, salah satunya dengan mengganti “KACA MATA” kita dalam melihat sesuatu. Kita bisa mengatakan bahwa orang itu adalah orang sulit tapi apakah kita pernah bertanya apakah saya termasuk juga orang sulit? Bisa jadi orang-orang disekitar kita adalah orang sulit TERMASUK KITA!!!
Lalu apa batasannya orang sulit itu??? Apa kriterianya???
Ini adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab karena masing-masing punya persepsi yang berbeda dalam memandang “si orang sulit itu”. Karena agak susah untuk membahas hal ini, yang bisa kita lakukan sekarang adalah BERFIKIR POSITIF dengan cara mengambil manfaat dari interaksi kita dengan orang yang kita anggap sebagai orang sulit itu.
Pembicara terkenal Gede Prama menuliskan beberapa pemahaman sebagai berikut:
Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu.
Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi orang sabar. Sebagaimana sering diceritakan, badan dan jiwa ini seperti karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala, mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit, itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini) menjadi lebih longgar (sabar).
Pengalaman saya ketika memfasilitasi sebuah training/pelatihan ada beberapa mahasiswa yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Banyak cara yang mereka gunakan untuk menguji dan mengrkritik instruktur atau fasilitator. Pertama saya agak geram juga tetapi lama kelamaan jadi kebal.
Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan. Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya kontribusinya. Tidak bermaksud mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Orang akan menjadi jauh lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat keras dan diktator.
Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita menjadi orang dewasa. Lihat saja,berhadapan dengan tukang menghina tentu saja kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak enaknya dihina orang lain.
Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat.
Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya, kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman, batu dengan bunga, bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih tinggi ?
By Anto
Ref: Gde Prama, Orang Brengsek Guru Sejati